ANAK NEGERI, Cerita Masa Depan, Hikmah, KARAKTER, Pendidikan

Menyiapkan Karakter Anak

anak sholehKenapa menyiapkan karakter anak???
hehey, karena saya belum menikah, apalagi memiliki anak, tapi tak apalah untuk pembelajaran dan bekal yang bisa diaplikasikan ketika berumah tangga 🙂 Aamiin

Kemarin malam (Jum’at 22 November 2013) sepepas sholat isya saya pulang ke rumah, selama perjalanan saya memperhatikan beberapa anak-anak usia belasan tahun sekitaran SD-SMP, yang mana mereka sedang belari-lari dan cukup menimbulkan kegaduhan di lingkungan masyarakat, menggangu anak perempuan yang lewat, berantem dengan anak sebrang (tawuran) dan terkadang ada beberapa orang tua yang merasa jengkel dengan ulah mereka.

di sisi lain saya melihat mereka yang usianya tak jauh di atas saya, sekitar 25-30 tahun. di usia yang sangat produktif hanya duduk di sebuah perempatan jalan, makan kacang dan minum-minuman, dan yang aneh lagi saat itu waktu sholat maghrib, dan posisi mereka tak jauh dari musholla, yang dengan jelas dapat terdengar suara adzan.

dari kedua kasus di atas saya melihat ada beberapa kesimpulan, diantaranya :

  1. pola hidup yang tak berbeda, dari yang anak-anak, terbawa ke usia dewasa.
  2. saat kecil kurang arahan yang tepat dari orang tua, guru di sekolah, guru ngaji, kondisi lingkungan yang kurang kondusif/mendukung.
  3. sudah di anggap suatu hal yang biasa saja, padahal setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, menjadi anak yang baik, pintar, yang mana merupakan investasi bagi orang tuanya kelak.
Memiliki anak sholeh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak sholeh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Pada usia dini, seorang anak akan lebih mudah untuk menerima perubahan ketimbang ketika ia telah dewasa. Dan pada usia dini itulah, masa pembentukan jati diri, pola pikir dan watak sang anak sedang berproses.

Dalam masa pembentukan itulah, orangtua hendaknya memberikan perannya secara optimal. Orangtua harus mampu memberikan pengaruh positif kepada sang anak. Isilah kepala, hati dan jiwa anak anak yang sedang dalam proses pembentukan tersebut dengan nilai nilai yang baik. Orang tua harus dapat menjadi filter bagi berbagai unsur negatif yang dapat merusaknya. Jangan sampai sang anak justru memperoleh pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi sholeh/sholehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini:

  1. Bangunkan shubuh sejak balita. Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.Berikan lingkungang pergaulan dan pendidikan yang islami
  2. Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.Jangan egois!
  3. Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah, sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.
  4. Safari Masjid. Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.
  5. Perkenalkan batasan aurat sejak dini. Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.
  6. Selalu membawa perlengkapan sholat. Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.
  7. Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami. Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu’rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.
  8. Buatlah jadwal nonton TV. Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.
  9. Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung. Ajarkan nilai-nilai islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.
  10. Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran. Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.
  11. Jadilah sahabat setia baginya. Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.
  12. Ciptakan nuansa kehangatan. Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.
  13. Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan. Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati. (http://mendidikanakanak.blogspot.com)

    Semoga ini daat menjadikan bahan pelajaran bagi kita untuk menyiapkan generasi sholeh, generasi masa depan yang menjadi harapan orang tuanya kelak. semoga bermanfaat 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s