Tag

, , , , ,

Kehidupan manusia tak dapat dipisahkan dengan alam. Ya, alam semesta ini di sediakan Allah untuk manusia. Ada banyak cara manusia menikmati alam, salah satunya dengan melakukan tafakur alam atau menyatu dengan alam dan memahami betapa besarnya citaan Allah, dan betapa kecilnya, tak ada apa-apanya kita (manusia jika dibandingkan semesta alam ini). Allah ciptakan alam berupa, pegunungan dengan bentangan hutan yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia, di sana kita dapat bercocok tanam, mengembalakan ternak dan melakukan banyak hal. Alam juga menyediakan udara segar yang kita hirup setiap harinya. Tak hanya pegunungan, Allah juga menyediakan lautan luas dengan beraneka ragam ikan yang dapat dikonsumsi, laut juga menawarkan berbagai macam pesona di pesisir pantai yang menawarkan keindahan pantai serta pemandangan bawah laut yang sangat menakjubkan, saat melihatnya seraya kita takjub akan ciptaanNya dengan mengucapkan “ subhanallah “ .
Ada banyak cara manusia mengenal alam, menyatu dengan alam, guna mengenal alam lebih dekat dan kita dapat banyak pelajari serta berkontribusi terhadap alam, tempat dimana kita hidup. Belum lama ini saya dan kawan-kawan dari remaja mushola Ar Rahman Manggarai (RISMA) serta taruna pecinta alam sekolah tinggi perikanan (TAPALA STP-Jalanidhitah) melakukan rihlah dalam tema napak tilas raden H. Surya Kencana di Gn. Gede Pangrango yang bertepatan pada tahun baru islam 1236 H atau dalam kalender nasional jatuh pada 25 Oktober 2014.
Rencana ini sudah ada sekitar 1 bulan sebelum, yaitu dari obrolan saat silahturahmi ke salah satu alumni STP yang bertempat tinggal di Manggarai Jakarta selatan. Agus Riyanto (bang Riyan) atau yang biasa dikenal warga Manggarai dengan sebutan bang Momo mengajak adik-adik TAPALA STP untuk ikut serta dalam pendakian ini, karena bukan hnya sekedar pendakian. Informasi mengenai pendakian ini saya posting di grup facebook milik TAPALA STP, dengan jadwal mulai 24 -26 Oktober 2014.
Ketika hari pelaksanaanya tiba ternyata semakin bertambah peminatnya, dari yang awalnya diperkirakan hanya 11 crew dari RISMA ternyata mencapai 15 crew, dan alhasil kita tetap jalan dengan jumlah yang bertambah. Sedangkan dari TAPALA STP terdapat 14 Crew dengan 3 alumni barunya, saya sendiri, M. Rudi Herliyanto, dan M. Sandi Wandiro. Jadi total kami yaitu 31 crew. Jumlah yang cukup banyak.
IMG_1599Perjalan dari Jakarta tepatnya di kampus pusat sekolah tinggi perikanan pasar minggu tepat pukul 19.00 dengan menggunakan truk TNI menuju cibodas yang terletak di taman nasional gunung Gede Pangrango (TNGP). Dalam perjalanan yang memakan waktu cukup lama banyak diantara kami yang bercerita dan ada juga yang pelor (nempel molor) alias istirahat guna persiapan tenaga untuk mendaki. Kami tiba sekitar pukul 22.30 dan setiba di cibodas kami segera menurunkan barang tepat didepan warung kang Aab (pemilik warung di sekitar cibodas dan guide/pendamping kami mendaki).
warung kang AabPendakian direncanakan pukul 02.00 dini hari dari jalur cibodas, jadi masih ada waktu yang cukup lama. Ada yang melanjutkan istrirahat sambil menunggu pendakian, adapula yang menyiapkan penerangan untuk jalan malam seperti head lamp, senter, ataupun cadangan batrei. Tak lam kami berada di tempat kang Aab, datanglah ka Andri, alumni STP angkatan 34 bareng dengan bang Riyan. Saya aja angkatan 46, berarti selisih 12 tahun alias 12 angkatan. Waktu yang cukp lama.

foto bersama di parkiran cibodas
Perlu diketahui ka Andri juga salah satu senior di TAPALA STP, dan saat ini ka Andri juga bekerja sebagai ranger TNGP, jadi bagi yang ingin mendaki ke TNGP dapat mengurus SIMAKSI (surat izin masuk kawasan konservasi). Jadi beliaulah yang membantu mengurus SIMKSI kami. Saya pribadi bangga dengan kepedulian ka Andri dan bang Riyan yang sampai saat ini masih peduli dengan adik-adiknya di TAPALA STP, tanpa membedakan angkatan, tanpa membedakan suku, tanpa membedakan kepercayaan, dan bahwa kita adalah saudara.

bang Riyan dan ka Andri

tadinya mereka berdua mau suap-suapan, namun gak jadi karena ada kamera :p

Keakraban antara bang Riyan dan ka Andri terlihat saat mereka makan berdua, sangat terlihat perilaku saat masih taruna di STP. Tak hanya mereka berdua, kami juga berfoto bersama sebelum berangkat mendaki. Tetapi sayangnya ka Andri tak bisa ikut dikarenakan belum pulih setelah melakukan operasi usus buntu. Kami berharap Allah segera memberikan sebaik-baiknya kesehatan buat ka Andri, semoga dapat kembali beraktifitas seperti biasa dan bisa mendaki bersama kami lagi. Akhirnya pendakian dimulai, dan ka Andri mohon maaf tak bisa ikut bergabung. Dengan perlengkapan yang bisa dibilang seadanya dan melalui pos 1  cibodas perjalanan dimulai yang sebelumnya telah di bagi menjadi 4 kelompok, dengan kang Aab sebagai guide kami berada di kelompok terdepan.

Kegelepan malam, kesunyian, riungan suara jangkrik dan hewan malam, percikan air saat melewati telaga biru, tak lupa juga sejuknya udara malam menjelang pagi itu mewarnai perjalanan kami dimana kebanyakan orang sedang terlelap tidur, tetapi kami lebih memilih menyatu dengan alam. Langkah demi langkah kami lalui, lika-liku jalur kami tempuh bersama dengan menggendong carrier dan tetasan keringat menetes, membasahi baju, mengubah tubuh ini yang semula kedinginan menjadi berkeringat. Keringat ini bukan tanda kami kelelahan, tetapi menjadi tanda perjuangan kami, sekaligus memberi tanda bahwa kami juga butuh istirahat.
Tak lama kami istirahat, hanya sekedar menikmati seteguk air dan merebahkan carrier. Setelah dikira cukup kami melanjutkan pendakian dan masih ditemani dengan riungan suara jangkrik “krik…krik…krik” kurang lebih seperti itulah suasananya. Melewati pertigaan air terjun cibeureum saat waktu subuh mengingatkan kami untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah diantara tanah lapang di pinggir aliran air yang memadukan harmonisasi antara batu kali dan derasnya aliran air dan kami pun mengambil wudhu di air tersebut. Sejuk dan sangat menyatu dengan alam.suasana saaat istirahatSetelah sholat dan berdoa kami melanjutkan perjalanan dengan melalui air panas yang dihiasi dengan bebatuan dengan dilaluinya air panas sehingga menghiasi kawaasan itu dengan uapnya. Saat itu mentari pagi sudah mulai muncul sehingga cukup memberikan penerangan, namun tetap butuh kehati-hatian dalam melewatinya, dikarenakan jalan yang licin. Setelah air panas kita melewati kandang batu, di kawasan ini juga banyak terdapat pendaki yang mendirikan tenda/camp, karena dekat dengan sumber air dan kontur tanah yang cukup datar. Kamu juga sempat beristirahat dan memasak di kandang batu.

kandang batunampang di kandang batu

Itulah kandang batu, setelah dari kandang batu kami melanjutkan perjalanan dengan melewati air terjun pancawelueh. Kali ini air di kawasan pancawelueh sangat berbeda dengan air di kawasan air panas yang memiliki suhu tinggi, yang saat melewatinya berasa di sauna akibat uap yang dihasilkan. Namun air di kawasan pancawelueh sangat sejuk dan cukup banyak yang ngecamp tak jauh dari air terjun pancawelueh.
Air terjun pancawelueh terlewati selanjutnya kami terus mendaki sampai akhirnya kami tiba di kandang badak. Jangan dibayangkan kalau di kandang badak kita akan menemukan badak ya, ini hanya nama, entah apa asal usulnya. Ditempat ini banyak sekali yang mencoba ngecamp atau hanya sekedar beristirahat sebelum melanjutkan ke puncak, baik ke puncak gede atau pangrango. Kami juga sempat beristirahat sejenak di kandang badak untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Saat itu kami menentukan sholat dzuhur di surya kencana saja, tempat kami berencana ngecamp. Tak lama di kandang badak kami akhirnya melanjutkan pendakian menuju puncak gunung gede kurang lebih selama 2 jam, lumayan lama dari biasanya yang hanya 1 jam, ini dikarenakan kami membawa carrier ke puncak. Jalur menuju puncak cukup melelahkan disamping membawa carrier, medan pendakian yang cukup terjal dan melewati tanjakan setan sebelum mencapai puncak gede.IMG_2201puncak gedeBanyak kesan yang dirasakan saat menapai puncak, senyuman dari setiap pendaki terlihat begitu merekah dari jiwa-jiwa yang telah berjuang mencapai puncak. perlu diketahui, senyum itu tanda bahagia, meski dalam membawa beban berat sekalipun. Tak lupa banyak ucapan yang kami tulis saat berada di puncak, diantaranya:

IMG_2049IMG_1787

IMG_1857IMG_1806IMG_1793IMG_2023Butuh usaha dan kesabaran untuk mencapai puncak. Sayangnya saat menuj puncak kami harus berpisah dengan beberapa kelompok, dikarenakan kesanggupan yang tak memumngkinkan akhirnya 6 crew memutuskan untuk turun dan ngecamp di kandang badak dan sisanya 25 crew melanjutkan pendakian ke puncak. Sore itu sekitar pukul 15.15 sore dengan cuaca mendung, dan tak lama ternyata juha turun ketika kami asik berfoto di puncak gede. Sebelum turun ke tempat camp di surya kencana kami menyiapkan ponco/jas hujan atau apa saja untuk melindungi diri dari turunnya hujan.IMG_2187Saat hujan di puncak ada yang membuka terpal untuk berteduh dan berdiam diri, sedangkan yang lain termasuk saya melanjtkan perjalanan ke alun-alun surya kencana, setiba di surya kencana kami segera membangun tenda. Dan saat kami membangun tenda kondisi masih turun hujan. Dengan cepat dan akhirnya 3 tenda berdampingan berhasil kami dirikan. Kami mengutamakan adik taruni TAPALA STP untuk segera menggantai pakaiannya yang basah akibat hujan agar tak kedinginan, sedangkan yang lain mencari air dan menyalakan kompor untuk memasak air dan makan-makanan untuk makan malam.
Sambil menunggu teman yang masih di puncak, kami memasak, dan sebagian yang lain mencari kawan kami yang masih di puncak untuk segera turun. Kami bergantian, masak, ganti pakaian, dan sholat. Satu persatu teman kami akhirnya ketemu dan saat itu sekitar pukul 19.00 saatnya makan tiba, dengan makan yang seadanya dan minuman susu jahe hangat cukup untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Sesudah makan selesai kami membereskan tempat agar dapat tidur dengan nyaman dan nyenyak. Namun jangan disamakan tidur di rumah, di asrama dengan di alam/dihutan seperti ini. Kami pisahkan antara adik taruni dengan taruna pada tenda yang berbeda. Suhu yang rendah ditambah beru saja turun hujan, memaksakan kita untuk tetap bertahan dari dinginnya suhu di alun-alun surya kencana. Kami selaku senior terus mengawasi adik-adik yang kedinginan dengan menggosokkan minyak berharap memberikan kehangatan. Saling menjaga dan saling melindungi, memperhatikan apabila ada yang kedinginan.
Alhamdulillah pagi tiba, saya bangun sekitar pukul 05.00 dan segera tayamum dan sholat subuh di tenda masing-masing. Pagi itu sejuknya udara, indahnya embun pagi didedaunan sekitar ilalang, kicauan burung mewarnai pagi di alun-alun surya kencana. Disisi lain adapula yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh. Bagi yang lain ada yang memasak air dan menyediakan makanan untuk sarapan pagi sebelum melanjutkan kegiatan.
Menu pagi itu mie goreng korned dengan nasi pula, setidaknya itu cukup untuk mengantarkan pagi di surya kencana, tak lupa dihadirkannya pula teh hangat, dan susu jahe untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gemuruh di seberang gunung gede. Gunung gemuruh/puncak gemuruh tak banyak dijamahi oleh pendaki, dikarenakan ketinggian yang tak begitu menantang. Oleh sebab itu jalur ke gemuruh lebih rapat dan cukup terbilang asri dibandingkan ke gunung gede. Tempat pertama yang kami kunjungi ialah goa penglihatan, konon katanya goa di gunung gemuruh sudah ada sejak dahulu kala, dan goa ini tembus ke alun-alun surya kencana (cerita kang Aab). Ada mitos terhadap jalur di sekitar goa penglihatan, yaitu jika kita balik arah atau melelui jalan yang kita lalui sebelumnya kita tidak akan dapat jodoh (mitos).goa penglihatanSetelah dari goa penglihatan kami melanjutkan jalan menuju makam ibu pusar bumi. Pada awanya tak ada tanda-tanda adanya makam disekitar kawasan yang kita tempati, lalu tak berapa lama kang Aab pun menemukannya. Makam ibu pusar bumi, sayangnya banya pengunjung yang mengambil tanah di pemakaman karena memiliki kepercayaan tertentu, jadilah makam itu tak tampak seperti makam. Namun kang Aab dapat menemukannya.

megalit lumbung padiBebatuan megalit atau situs megalit gunung gemuruh, menurut cerita dari kang Aab dulu pernah dijadikan lumbung padi. Di situs megalit ini terdapat pecahan seperti pinti yang hanya dapt dibuka oleh orang-orang tertentu.
Masih pada gunung gemuruh dan situs megalitnya, namun kali ini batu tongkat/batu masjid dari bentunya yang besar dan jika di gali bentuknya panjang dan memiliki penampilan membentuk kubah masjid.kak Nur di batu tongkat/batu masjidbatu dongdangBerjalan cukup jauh ada pula batu dongdang, yang memiliki mitos jika depaan tangan kita sampai hingga ujung ke ujung jari kita maka masa depan kita akan bagus. Banyak sekali mitos-mitos atau kepercayaan terhadap situs –situs di kawasan sekitar alun-alun surya kencana.

IMG_2117Beralih dari batu dongdang kita disajikan dengan batu kencana, sebuah baty yang menyerupai bentuk kursi yang menurut kang Aab dulunya batu ini dijadikan sebagai kencana dar Raden H. Surya Kencana. Batu ini sesuai nama tempatnya surya yang berarti sinar/cahaya dan kencana yang berarti sebuah tempat menyerupai kereta yang ditarik dengan kuda. Jadi ada saat-saat tertentu batu ini dapat mengeluarkan atau terlihat besinar dan jika kita mendudukinya dengan tenang serasa terbang atau sedang menaiki kencana dengan kuda sambil berjalan.

Setelah mengeksplore kawasan gunung gede, surya kencana, dan gunung gemuruh ternyata “bukan hanya menawarkan hamparan edelweis saja, banyak dan masih banyak objek yang belum kami kunjungi.” Ujar kang Aab. Berhubung waktu semakin senja kami bergegas menuju camp area untuk prepare/menyiapkan perlengkapan untuk kembali ke Jakarta.
Setelah semua siap sebelum pulang saya menjamak sholat dzuhur dan ashar karena khawatir tidak ada waktu nanti. Dari alun-alun surya kencana kami melanjutkan untuk mendaki puncak gede, melalui jalur sebelumnya, tanjakan setan yang cukup terjal, dan pada saat kami tiba di kandang badak kondisi cuaca sudah mendung dan tak lama akhirnya turun hujan, dan kami berpencar kembali. Para pendaki mengambil mantel/jas hujan atau apapun guna melindungi diri dari turunnya hujan, saya pun menggunakan metras sebagai pelindung saat hujan. Walau hujan kami terus melanjutkan perjalanan turun melalui air terjun pancaweleuh yang airnya agak kecoklatan karena bercampur dengan hujan yang terlarut dengan tanah, lalu kandang badak, dan akhirnya hujan mereda, namun masih gelap alias mendung.
Saat di kandang batu saya sempat beristirahat dan mengambil air dan bertemu kembali dengan rekan kelompok kami. Dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun kembali melalui air panas yang sangat macet dikarenakan banyaknya pandaki yang turun saat bersamaan, dan juga jalur yang sangat licin sehingga membutuhkan kehati-hatian yang sangat ekstra. Kurang lebih membutuhkan wakti 1 jam untuk melewati jalur air panas, dan saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 16.30. setelah terjebak kemacetan di air panas selanjutnya kami teru menelusuri jalan menuju . saya dan beberapa crew tiba di pos pintu masuk cibodas pukul 20.15 tak lama setelah itu saya dihubungi oleh rekan saya yang tak bisa ikut bahwa ka Andri sudah menunggu di pos dekat jembatan. Dan tak lama ka Andri menelpon saya untuk menanyakan posisi. Akhirnya ka Andri menghampiri saya dipos pintu masuk cibodas, kami salaman terlebih dahulu tiba dan akhirnya adik-adik taruni TAPALA ikut dengan ka Andri langsung karena istri ka Andri menunggu di mobil.
Saya dan kak Nur menunggu di depan pos masuk cibodas, dan lewatlah crew lainnya. Saya dan kak Nur menunggu kurang lebih 1 jam di pos masuk cibodas sampai kami merasa lelah karena belum makan, akhirnya kami memutuskan untuk turun langsung menuju warung kang Aab, tempat rekan kami menunggu. Ternyata saat itu kak Andri membawakan makanan untuk kami anak TAPALA STP dan kami memakannya di warung kang Aab. Setelah makan, saya mencoba menghubungi rekan yang belum turun. Dan saya segera menyusul dikarenakan ada salah satu sendal rekan kami yang putus dan membuat sulit berjalan.
Setelah dijemput dan kemi semua berkumpul di warung kang Aab membersihkan badan, makan malam, sholat maghrib dan isya. Pukul 00.00 kami pamit dengan kang Aab dan kembali menuju Jakarta. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 03.00 tepatnya di kampus sekolah tinggi perikanan alhamdulillah lengkap dan selamat.
Sunggu perjalanan yang bukan sekedar perjalanan. Kelelahan, keletihan, kedinginan, keceriaan saat bersama mendaki memberikan cerita pada masing-masing kita.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah perjalanan, dari sebuah pendakian, dari sebuah persahabatan, semua tak lekang oleh waktu, oleh perbedaan, semua menyatu dengan alam melahirkan harmonisasi yang syarat akan sebuah kenangan. Terima kasih buat kak Andri dan istri atas kepedulian dan suguhannya setelah 3 hari menyatu dengan bumi cibodas. semoga kami dapat menjadi alumni yang care dengan adik-adik TAPALA STP, dan terima kasih juga untuk Afni Yusmaria yang tak ikut dan berada diseberang namun merasa khawatir. kami tunggu pendakian bersama kembali.

Berada ditempat yang jauh lebih tinggi dari pada kalian, setidaknya memberikan sebuah keteguhan bagi seorang pendaki gunung. Ada banyak hikmah yang Allah berikan dari perjalanan ini, menyusuri alamNya, dan kita menyatu dengan semesta Alam Surya Kencana 24-26 Oktober 2014.

Iklan