Terkadang aku berandai, “andai ummi masih ada saat ini”. Saat anak-anakmu sudah mulai tumbuh dewasa, dan alhamdulillah dari si bungsu Halimah sudah duduk di kelas 7 SMP, Azizah kelas 9 SMP, Sifah kelas 2 SMA, Annis sudah cawu 2 di BEC, Niyah sudah 2 tahun bekerja setelah 2 tahun lalu di wisuda setelah lulus dari BEC, dan aku anakmu paling besar juga sudah bekerja setelah 1 September 2014 lalu wisuda di STP, dan ayah sejak November lalu telah pensiun dari aktifitasnya bekerja di Bukaka. Terima kasih ya Allah atas nikmat mu yang tak dapat kami hitung, dan sering kali kami justru mendustakan nikmatMu yang begitu melimpah,malah lebih sering kami tidak mensyukurinya. Ingatkan kami ya Allah atas kekhilafan ini.

IMG_2014

wisuda 1 September 2014, Azizah, Sifah, ayah, aku, dan Annis

DSC01331 - Copy

Ayah dan Niyah di wisuda BEC 2013

 

Kami hanyalah keluarga kecil sederhana di pesisir Jakarta, walaupun kata orang jumlah saudara kami banyak, ya kami ada 6 bersaudara, dan aku adalah putra pertama, anak paling besar dan paling tampan (karena adik-adikku yang lain perempuan semua).

c0ff3-original

Ummi menggendong Azizah, dan Sifah sedang menangis

Saat itu Allah berikan kami malaikat bernama ummi, banyak kisah yang kami lalui, senang, bahagia, riang, susah, sedih, haru, dan banyak lagi. Banyak sekali hal yang ummi beri, dan  itu ternyata baru ku sadari saat kami sudah besar, dan kini justru engkau telah lebih dahulu memenuhi panggilan Allah.  Sejak 8 April 2010 kami memulai lembaran baru,hidup tanpa seorang ummi, ya ummi meninggal. Dan ayah kehilangan orang yang menjadi pendampingnya selama ini, selama kurang lebih 20 tahun menemani dan hingga saat ini ayah masih belum mencari pengganti ummi. Kami keenam anaknya kehilangan sosok ummi yang sejak kami dilahirkan didunia ia mengajari kami banyak hal serta menitipkan banyak hal juga yang harus kita teruskan.

Aku kecil, dan saat itu aku belum di Jakarta, masih di Cileungsi (salah satu kabupaten di Bogor-Jawa Barat). masih di lingkungan pesantren, ayah kami memang bekerja di sana di PT Bukaka. Seiring berjalannya waktu karena kami hanya mengontrak di sana akhirnya atas pertimbangan di Jakarta ada rumah dan nenek kami kasihan hanya seorang diri di sana, akhirnya selesai TK (taman kanak-kanak) ayah dan ummi memutuskan tuk pindah ke Jakarta dan hingga saat ini.

ketika masih di Cileungsi aku tak begitu memikirkan apa yang ayah dan ummi berikan kepadaku, mungkin karena lingkungan pesantren jadi cukup kondusif juga. namun setelah di Jakarta banyak sekali pengaruh yang memang tanpa saya jelaskan pembaca tahu. Sering kali orang tua kami melarang kami ini dan itu. dan terus terang ini membuat pertanyaan dalam diri, “teman-temanku yang lain boleh, kenapa aku tidak?” tak sempat ku ucapkan saat ayah atau ummi melarang. Saat maghrib tiba,  sholat maghrib dan kami mengaji di TPQ dimasjid/musholla di sekitar rumah kami.  sepulangnya kami tak diijinkan keluar rumah atau main di luar rumah saat malam.

Tak hanya mengenai pergaulan terhadap makanan juga banyak peraturan, tidak boleh makan atau minum ini itu, ataupun adabnya. kalau ada tempat tuk duduk usahakan duduk kalau mau minum atau makan. pernah saat saya dan ummi ke pasar, ummi haus dan kami biasa baaw air minum. karena di jalan ummi tanpa malu ia jongkok dan meminum air yang kami bawa. Adapun yang lainnya masih banyak ajarannya dan itu sangat aku rasakan manfaatnya setelah aku besar.

Saat ini aku sedang mengingat kembali nasehat-nasehat mereka, pernah ummi mengatakan kepadaku, “Fadli, kalau kamu ingin mencari istri usahakan cari yang berhijab, dan jangan sesekali terpengaruh oleh perempuan, janganlah kamu dekati perempuan kecuali kamu mau menikahinya.” entah aku lupa tepatnya kapan itu ummi berpesan seperti itu kepadaku. disisi lain ayah juga berpesan, namun berbeda dengan ummi, ayah memperingatkan namun sedikit menekan. begini pesannya, “ayah lihat kamu jalan berdua dengan perempuan, ayah akan nikahin kam”. dua pesan dari ayah dan ummi, namun itu tujuannya sama, ku rasa saya janganlah dulu bermain asmara derngan lawan jenis. padahal saat itu aku pun tak terlalu memperhatikannya, ya karena usiaku masih belum cukup juga.

IMG_20150307_201756

Annis, Halimah, Ayah, Sifah, Fadli, dan Niyah

Berjalannya waktu dan pertumbuhan kami, kami usahakan tuk menjalankan pesan-pesan serta ajaran prang tua kami, entah memang sudah waktunya kami untuk sadar akhirnya kami merasakanlah apa yang mereka ajarkan dahulu kepada kami anak-anaknya. Allah memang punya cara yang indah tuk mengingatkan hambaNya. ketika aku mencoba melaksanakan apa yang telah ayah ataupun ummi ajarkan ke kami, terkadang kami melanggarnya. maafkan kami ya ayah dan ummi, ampuni kami ya Allah.

Walau ummi telah tiada dan hanya ayah yang masih setia kepada kami anak-ananya, semoga kami dapat meneruskan amal salehyang kalian ajarkan kepada kami. Semoga ini menjadi amal yang tiada terputus untukmu ummi dan semoga bernilai pahala di sisi Allah. Ya Allah, bantulah ayah kami agar  ia mampu mendidik, merawat dan mengingatkan  kami saat kami jauh dariMu. Ya Allah bantu kami untuk meneruskan amanah ayah dan ummi kami, bantulah  kami ya Allah agar kami selalu dekat denganMu, dimana pun kami dengan situasi apapun, tanpa bantuanMu kurasa semua mustahil menjadi nyata. Jadikan kami anak yang selalu berbakti kepada orang tua kami, jadikan kami anak-anak yang selalu menjalankan perintahMu, dan meninggalkan apa yang Engkau larang. Ingatkanlah kami ya Allah jika kami lupa menjalankannya ya Allah. tiada daya dan upaya kecuali dariMu. Aamiin

Iklan