Ingin Ku Damai Bersamamu

oleh Rahmat Saifullah pada 9 Agustus 2012 pukul 17:49 ·

Rindu mengapa rasa ini bergejolak? meremukkan tulang-tulang melemahkan persendian, menyesakkan nafas, menghanyutkan ketegaran yang ku punya, Bunda… mengingatmu secara spontan mengubah kondisi psikisku, aku bingung mau menjelaskannya seperti apa? aku belum menemukan titik terang mengapa jiwaku begitu tertaut padamu. Aku merenung, dan cahaya itupun merekah membuka tabir akan jawaban pertanyaanku yang penuh misteri. Ya.. Engkaulah malaikat yang dititipkan Tuhan untuk menjagaku, engkau pula yang pertama mengajariku untuk hidup dan melanjutkan kehidupan di bumi ini, aku sadar bukankah ragaku berada dalam lindunganmu 22 tahun silam.

Aku sadar mengapa kita begitu dekat, dan mengapa aku damai bersamamu, bukankah waktu ini kita memiliki usus yang menyatu, aku banyak mendengarkan detak jantungmu, aku banyak mendengarkan doa-doamu memohon kepada Tuhan akan kecerahan masa depanku, kesehatanku, dan meminta padaNya supaya aku bisa terlahirkan normal. Entah siang maupun malam, kata itu selalu terngiang di telingaku, intensitas doamu melebihi tasbihku padaNya. Sampai saat ini aku takkan pernah bisa dan tak akan mungkin bisa melupakan pandangan matamu yang meneduhkan, banyak pancaran kasih sayang yang mengalir dari telaga kasihmu yang tak pernah kering…

Seiring waktu berlalu, kujalani takdirku seorang diri melangkah mengumpulkan serpihan mozaik yang bertebaran di ranah ini. Dua tempat yang berbeda disinilah aku menggoreskan sejuta kesedihan yang tak mampu ku ucapkan dengan dari vocabluary hidupku yang terbatas. Bunda apakah aku salah dengan pilihanku? belum bisa memberikan apa yang bunda Harapkan dariku, bunda Maafkan daku belum bisa memberikan jawaban akan harapan doa-doamu tatkala dikau menengadah ke langit berucap doa dengan deraian air mata hanya karena aku…

Bunda aku terlalu banyak melukai hatimu, akankah pintu maafmu masih terbuka untukku, akankah engkau masih tetap berdiri di depan pintu menyambut raihan prestasi dan kesuksesan yang memang hanya ku persembahkan untukmu?

Bunda…

Aku merasa kerdil tanpamu, aku lemah tanpa doa-doamu, aku haus akan nasehatmu, aku lapar akan petuah yang kerap engkau bisikkan… disini aku selalu merindukanmu, disini aku hanya berteman sepi, disini aku menantikan waktu dimana kita bisa dipertemukan, berat rasanya daku menjalankan ibadah yang penuh kerinduan tanpa canda tawamu menjelang Buka Puasa aku rindu omelanmu tatkala aku malas bangun tuk makan sahur bersama,

Bunda kapan waktu itu kan berulang… aku selalu merindukan masa itu…
Lihat Juga : https://www.facebook.com/notes/rahmat-saifullah/ingin-ku-damai-bersamamu/371712329567865

Iklan

3 thoughts on “Ingin Ku Damai Bersamamu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s